Kisah Sendi Petugas Damkar Bandung Delapan Tahun Menantang Api, Tetap Semangat Melangkah dengan Hati

2026-01-12 05:36:20
Kisah Sendi Petugas Damkar Bandung Delapan Tahun Menantang Api, Tetap Semangat Melangkah dengan Hati
BANDUNG, – Delapan tahun sudah Sendi Saputra (32) hidup berdampingan dengan sirine, asap tebal, dan panggilan darurat yang datang tanpa mengenal waktu.Sebagai Komandan Regu Rescue Peleton 2 Damkar Kota Bandung, seragam biru dan risiko tinggi bukan lagi sekadar tugas—melainkan pengabdian yang ia jalani dengan hati.Padahal, Sendi mengaku masuk Damkar awalnya hanya karena dorongan orangtua.Namun rasa keterpaksaan itu berubah menjadi kecintaan ketika ia menyadari betapa besar manfaat pekerjaannya bagi masyarakat.“Masuk Damkar teh karena dorongan orang tua. Tapi setengah tahun kemudian malah jadi senang sekarang. Karena ternyata di Damkar kerjaannya bisa nolong-nolong orang gitu,” ujarnya, Minggu .Menjadi petugas pemadam kebakaran berarti siap menerima dua sisi mata uang: ucapan terima kasih dan pujian, atau justru keluhan dan hujatan ketika respons dianggap terlambat.“Sukanya mah yang tadi bisa nolong orang sampai selesai,” kata Sendi.Namun ia tak menampik sering mendapat cibiran saat aduan masyarakat tidak bisa dipenuhi dengan cepat.“Dukanya mah… banyak warga yang belum ngerti… bilang pemadam teh telat, pelayanannya kurang bagus, padahal kita tuh sudah maksimal,” ungkapnya.Baca juga: Potret Kantor Damkar Pangkalpinang yang Rapuh Ditelan WaktuKeterbatasan peralatan dan anggaran membuat pelayanan kerap tak seideal harapan masyarakat.Anggaran Damkar yang hanya bersumber dari APBD Kota Bandung—bukan pusat—harus dibagi ke banyak dinas sehingga berdampak pada ketersediaan sarana.“Masyarakat enggak tahu bahwa anggaran kita teh dari kota… anggarannya terbatas,” katanya.Meski penuh keterbatasan, Sendi bersyukur karena para pimpinan berupaya memenuhi kebutuhan alat—meski sedikit demi sedikit.Ia mencontohkan perbedaan besar ketika alat mini grinder akhirnya tersedia untuk menangani cincin yang tersangkut di jari.“Dulu harus kikir manual, satu sampai dua jam. Sekarang 5–10 menit,” ujarnya.


(prf/ega)