Pramono Pastikan Tak Ada Pemangkasan Anggaran Subsidi Pangan Murah pada APBD 2026

2026-02-02 15:55:57
Pramono Pastikan Tak Ada Pemangkasan Anggaran Subsidi Pangan Murah pada APBD 2026
JAKARTA, - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan tidak ada pemangkasan anggaran sebesar Rp 900 miliar yang dialokasikan untuk program subsidi pangan murah dalam Rancangan APBD DKI 2026.Pernyataan itu disampaikan Pramono menanggapi penolakan sejumlah anggota DPRD DKI yang menyoroti isu penghapusan program tersebut dari dokumen anggaran.“Yang berkaitan dengan subsidi pangan dalam APBD itu merespon apa yang menjadi masukan dari anggota dewan yang terhormat, saya langsung menyampaikan bahwa tidak ada pemotongan untuk hal itu,” ucap Pramono saat ditemui di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu .Baca juga: Tok! APBD DKI 2026 Disahkan Rp 81,3 TriliunLebih lanjut, ia menyebut Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI tetap memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian dalam APBD Perubahan 2026 jika ditemukan kebutuhan tambahan atau ketidaksesuaian dalam pelaksanaan program.“Nanti kalau memang masih perlu adanya perubahan, tentunya perubahan itu akan kami lakukan di APBD perubahan. Tetapi yang jelas bahwa tidak ada pemotongan,” ucap Pramono.Program subsidi pangan murah selama ini menjadi salah satu program unggulan Pemprov DKI Jakarta untuk membantu warga memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.Melalui program ini, pemerintah bekerja sama dengan sejumlah BUMD pangan, seperti PT Food Station Tjipinang dan Perumda Pasar Jaya, untuk menyalurkan beras, telur, dan bahan pokok lain dengan harga di bawah pasaran.Untuk diketahui, sejumlah anggota dewan dalam rapat pembahasan anggaran menolak rencana penghapusan dana Rp 900 miliar untuk subsidi pangan murah.Mereka menilai langkah tersebut akan berdampak langsung terhadap kesejahteraan warga kurang mampu.Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Lukmanul Hakim, menjadi salah satu yang pertama menyampaikan interupsi.Baca juga: Rapat Paripurna DPRD DKI Memanas, Sejumlah Anggota Walk Out Tolak Ranperda APBD 2026Ia menilai alasan penghapusan subsidi tersebut tidak masuk akal dan menyesatkan.“Pengurangan untuk subsidi pangan murah kepada masyarakat Rp 300 miliar itu harusnya jangan dilakukan. Menurut informasi dari rapat rapat itu disampaikan bahwasannya kenapa dikurangi karena tidak diminati daging dan susu UHT, ternyata itu berbohong,” ujar Lukmanul Hakim.Senada, Anggota Fraksi PSI Josephine Simanjuntak juga melayangkan protes keras.Ia menilai pemotongan anggaran justru dilakukan di sektor yang paling dibutuhkan warga, sementara anggaran hibah untuk kelompok tertentu malah meningkat.“Kami melihat alasan pengurangan ini tidak masuk akal. Di lapangan, warga justru kesulitan mengakses pangan murah. Tapi dana sosial diturunkan dari Rp 1,02 triliun menjadi Rp 655 miliar, sementara dana hibah untuk Forkopimda dan organisasi massa mencapai Rp 315 miliar. Ini tidak logis,” ujar Josephine.Menurut dia, Pemprov DKI seharusnya memprioritaskan alokasi anggaran untuk kesejahteraan masyarakat, bukan untuk pos hibah dan kegiatan seremonial.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-02-02 15:27