Kisah Sekolah di Bengkulu yang Gurunya Digaji Rp 12.000 per Jam, Kini Dapat Rp 3 Miliar

2026-01-12 06:46:34
Kisah Sekolah di Bengkulu yang Gurunya Digaji Rp 12.000 per Jam, Kini Dapat Rp 3 Miliar
BENGKULU, - Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring, menyatakan Badan Anggaran (Banggar) telah menyetujui Rp 3 miliar untuk membangun gedung SMA Negeri 12 di Kabupaten Kaur pada tahun 2026."SMA Negeri 12 itu sudah menjadi agenda penting DPRD. Kami sudah laporan ke Banggar disetujui Rp 3 miliar. Untuk mengantisipasi kalau berharap dari kementerian harus mengajukan proposal. Cuma yang dibutuhkan sekarang kehadiran pemerintah provinsi," kata Usin ditemui di ruang kerjanya, Kamis .Ia menjelaskan, anggaran tersebut berasal dari APBD 2026 dan akan digunakan untuk membangun enam ruang belajar serta satu ruang kantor guru.Kepala SMA Negeri 12 Kaur, Japilus, mengaku bersyukur atas persetujuan anggaran tersebut."Kami bersyukur, mengucapkan terima kasih pada semua pihak, DPRD, gubernur, dan pihak lainnya yang peduli. Termasuk dewan guru," ujar Japilus.Baca juga: Kepala SD di Kampar Dipecat karena Arogan, Guru Honorer Juga Diberhentikan Usai Banting Nasi KotakSebelumnya, sekolah ini mencuri perhatian publik setelah 153 siswanya membentangkan karton bertuliskan permintaan pembangunan gedung saat memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025. Aksi tersebut viral di media sosial dan memicu kunjungan Komisi IV DPRD Bengkulu.Selama ini, siswa SMA Negeri 12 menumpang tiga ruangan milik SMP Negeri 22 di Kecamatan Nasal. Japilus yang merupakan guru tetap di SMK Negeri 4 Kaur, ditugaskan menjadi pelaksana tugas kepala sekolah di SMA Negeri 12.Ia bercerita, sebagian besar murid tinggal di pedalaman dan perbukitan."Sekolah ini sudah jauh dan berada di perbukitan. Nah, anak-anak itu tempat tinggalnya lebih jauh lagi ke sekolah jalan kaki menempuh jalan ekstrem, becek, dan berlumpur," katanya.Japilus mengungkapkan, saat sekolah pertama kali berdiri tiga tahun lalu, hanya ada murid tanpa guru, administrasi, maupun dana operasional. Ia kemudian mengajak para sarjana di daerah itu untuk mengajar secara sukarela."Saya sampaikan pada para sarjana yang mau mengajar bahwa tidak ada dana untuk menggaji, mereka ikhlas," kenangnya.Kini, ada 28 guru honorer yang digaji Rp 12 ribu per jam dari hasil urunan wali murid."Para guru digaji Rp 12 ribu per jam dari urunan wali murid," ujarnya.Selain menumpang gedung, siswa juga membawa meja dan kursi dari rumah masing-masing."Anak-anak membawa meja dan kursi dari rumah masing-masing untuk belajar," kata Japilus.Untuk kebutuhan administrasi, sekolah memanfaatkan komputer lawas dan meminjam printer dari SMP tempat mereka menumpang."Saya bersyukur dibantu para guru honorer sehingga kegiatan belajar tetap berjalan," ucapnya.


(prf/ega)