- Isak tangis pecah di ruang penjemputan jenazah RS Bhayangkara Padang, Sumatera Barat, Senin .Duka mendalam menyelimuti keluarga korban banjir bandang di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, dan kawasan Jembatan Kembar, Kota Padang Panjang.Seorang ibu tampak tak kuasa menahan pilu saat menerima penyerahan jenazah putri tercintanya, Nabila Salsabila, pelajar SMA asal Korong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aie, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.Tubuh sang ibu limbung hingga akhirnya pingsan ketika jenazah diserahkan secara simbolis oleh Polda Sumatera Barat.Baca juga: 93 Sekolah di Agam Masih Diliburkan karena Terdampak BanjirBeberapa kali sang ibu ditenangkan oleh suaminya, Afrizul. Namun kehilangan anak yang telah dicari selama dua pekan pascabencana banjir bandang tersebut begitu berat untuk ditanggung.Tangis pun pecah seiring kepastian bahwa Nabila merupakan salah satu korban meninggal dunia yang berhasil diidentifikasi.Sebelumnya, jenazah Nabila sempat dimakamkan oleh Polda Sumbar di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bungus, Kota Padang, lantaran identitasnya belum diketahui.Setelah melalui proses Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri dengan pencocokan data antemortem dan postmortem, identitas korban akhirnya dipastikan.Keluarga pun memutuskan untuk memindahkan makam Nabila ke TPU keluarga di Kabupaten Pasaman Barat.“Kami baru diberi tahu kemarin sore oleh pihak Polda Sumbar. Kami diminta datang ke RS Bhayangkara untuk penjemputan anak kami, Nabila Salsabila, yang sudah dua minggu kami cari,” ujar Afrizul dengan suara bergetar, saat ditemui di RS Bhayangkara Padang.Afrizul mengaku baru mengetahui bahwa putrinya telah lebih dulu dimakamkan beberapa hari sebelumnya.Baca juga: Susu Bayi hingga Selimut Dikirim dari Bangka untuk Korban Banjir di Padang dan Agam“Kami memang kurang tahu pasti sebelumnya. Tapi kami dengar Nabila sudah dimakamkan. Keluarga ingin dia dimakamkan di Pasaman Barat, di makam keluarga,” jelasnya.Ia menambahkan, identitas Nabila diketahui melalui tes DNA, mengingat kondisi jenazah korban banjir bandang lainnya sudah sulit dikenali secara visual setelah dua pekan pascabencana.“Nabila dikenali lewat tes DNA. Korban lainnya sudah sulit dikenali karena waktu sudah lama,” kata Afrizul.Nabila merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir di Jakarta, ia dikenal sebagai pribadi yang penurut dan ringan tangan. Sepulang merantau, Afrizul bersama keluarga mendirikan rumah tahfiz di kampung halaman.
(prf/ega)
Sang Ibu Pingsan di Rumah Sakit, Kisah Duka Keluarga Nabila Korban Banjir Bandang di Agam
2026-01-11 15:18:55
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 14:41
| 2026-01-11 14:02
| 2026-01-11 13:18
| 2026-01-11 13:15










































