Teka-teki Gelondongan Kayu yang Terbawa Banjir di Sumatera, Milik Siapa?

2026-01-12 04:02:44
Teka-teki Gelondongan Kayu yang Terbawa Banjir di Sumatera, Milik Siapa?
- Gelondongan kayu yang terbawa banjir di Sumatera dan Aceh menyita perhatian publik setelah videonya viral di media sosial, Minggu .Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto membenarkan bahwa gelondongan kayu itu tercecer di dua desa Sumatera Utara (Sumut)."Ada dua desa yang mungkin kalau pernah muncul ya di video itu ada kayu-kayu gelondongan besar segala macam itu ya, ternyata itu di Tapanuli Selatan, itu makanya kayu-kayu besar sampai masuk rumah dan segala macam itu. Itu parah ya," kata dia, dikutip dari KompasTV.Selain di rumah-rumah warga, gelondongan kayu juga terlihat di Jembatan Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan. Kayu-kayu itu tampak menumpuk di sungai.Lantas, dari mana asal-usul gelondongan kayu tersebut?Baca juga: Bareskrim Selidiki Asal Usul Kayu Gelondongan di Banjir SumateraManajer Riset Wahana Lingkungan Hidup, (Walhi) Sumatera Barat Andre Bustamar menjelaskan, fenomena gelondongan kayu yang hanyut terbawa banjir menunjukkan adanya aktivitas penebangan di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS)."Hal ini memperkuat dugaan bahwa praktik eksploitasi hutan masih berlangsung dan menjadi penyebab langsung meningkatnya risiko bencana ekologis," kata dia, dikutip dari keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Selasa .Menurut Andre, penyebab bencana di Sumatera Barat diakibatkan oleh akumulasi krisis lingkungan karena gagalnya pemerintah dalam melakukan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA).Dia mengatakan, deforestasi, pertambangan emas ilegal, dan lemahnya penegakan hukum menjadi penyebab kenapa Sumbar terus didera bencana ekologis.Senada, Direktur Eksekutif Walhi, Riandra mencatat bahwa wilayah yang terdampak gelondongan kayu paling parah adalah Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Tapanuli Selatan.Dia mengatakan, ketiga wilayah tersebut hulunya ada di ekosistem Batang Toru.Baca juga: Banjir Sumatera: Korban Jiwa 686 Orang, Sejuta Warga Dievakuasi, Ini Kata Kepala WHO"Dalam delapan tahun terakhir Walhi Sumut mengkritisi terus-menerus model pengelolaan Batang Toru, misalnya PLTA Batang Toru," kata dia, masih dari sumber yang sama."Selain itu, juga pertambangan emas yang berada tepat di Sungai Batang Toru," imbuh Riandra.Aktivitas industri ini dikhawatirkan memutus habitat orang utan dan harimau serta merusak badan-badan sungai.Begitu juga dengan aliran sungai yang selama ini menjadi daya dukung dan daya tampung lingkungan.


(prf/ega)