BANDUNG, — Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISBI Bandung, Prof Husen Hendriyana menegaskan, Indonesia sedang menghadapi krisis identitas kreativitas pada generasi muda.Krisis ini, menurutnya, kian mengemuka seiring perubahan kebijakan pendidikan tinggi yang pada 2025 kembali menempatkan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) sebagai fokus utama pengembangan talenta nasional.Menurut Husen, orientasi pendidikan yang terlalu menekankan STEM berisiko membuat proses pendidikan terjebak dalam logika transaksional, di mana keterampilan dipandang semata-mata sebagai modal ekonomi.“Skill dilihat hanya dari kacamata ekonomi, bukan dari kontribusinya terhadap nilai kemanusiaan,” ujarnya saat ditemui di ISBI Bandung, Selasa .Baca juga: Cerita dari Ujung Belitung, 2 Siswa Lolos STEM Nasional, Lewati Ribuan PendaftarIa menjelaskan, kebijakan pendidikan tinggi baru yang diprioritaskan oleh kementerian terkait, baik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, maupun Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, telah memperkuat orientasi pendidikan pada STEM.Konsep tersebut memang dianggap sebagai motor kemakmuran ekonomi, namun menurutnya tidak dapat berdiri sendiri.Husen mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang kesiapan kerja, melainkan pengembangan manusia secara utuh.“Kalau pendidikan diarahkan hanya untuk cepat kerja dan meningkatkan ekonomi, kita kehilangan sisi humanisme, kreativitas, dan empati,” tegasnya.Ia menilai, pendidikan yang fokus pada STEM tanpa melibatkan unsur seni menyebabkan proses inovasi kehilangan kepekaan estetika dan etika.Hal ini berbeda dengan pendekatan IPTEKS, konsep yang telah lama dianut perguruan tinggi Indonesia dan identik dengan pendekatan global STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics).Konsep IPTEKS, jelasnya, telah diterapkan sejak berdirinya FSRD di Institut Teknologi Bandung (ITB) sekitar tahun 1947 dan dijadikan trilogi inti dalam pengembangan akademik sejak awal 2000-an.“Seni adalah komponen integral. Ia menyeimbangkan rasa, keindahan, dan dimensi humanis dalam inovasi,” ujarnya.Baca juga: Siska Nirmala: Kisah Sukses Toko Nol Sampah di BandungHusen menilai, teknologi yang berkembang pesat tanpa dimensi seni justru berpotensi melahirkan inovasi yang dingin dan tidak manusiawi.“Banyak produk secara teknis sempurna, tetapi tidak menarik secara visual atau tidak nyaman digunakan. Itu menunjukkan hilangnya sentuhan humanis,” katanya.Ia juga mengingatkan bahwa semakin banyak perusahaan teknologi global yang kini justru mencari lulusan seni dan desain karena dinilai memiliki kemampuan komunikasi, empati, dan critical thinking, kemampuan yang sering kali tidak diasah dalam kurikulum STEM.
(prf/ega)
ISBI Bandung Soroti Krisis Kreativitas Imbas Dominasi STEM di Pendidikan Tinggi
2026-01-11 23:19:33
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 23:02
| 2026-01-11 22:50
| 2026-01-11 22:32
| 2026-01-11 22:27










































