Turun Gunung, Walkot Agung Pastikan Jalan di Pekanbaru Mulus

2026-01-15 10:04:36
Turun Gunung, Walkot Agung Pastikan Jalan di Pekanbaru Mulus
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho kembali turun mengecek perbaikan jalan. Agung ingin memastikan kualitas jalan yang baru diaspal itu mulus sesuai spek.Agung turun bersama Wakil Wali Kota Markarius Anwar dan sejumlah kepala dinas. Agung yang juga Ketua IMI Riau itu turun dengan sepeda motor untuk menjangkau semua titik.Ada beberapa ruas yang ditinjau langsung sejak kemarin. Sebut saja Jalan Pepaya, Jalan Kuras-Kulim, Jalan Melur hingga ke Jalan Malati yang sedang dalam proses pengerjaan.Ada pula Jalan Melati dan Darma Bakti. Khusus Jalan Darma Bakti saat ini proses perbaikan dilakukan secara fungsional di lokasi.Bukan tanpa alasan, Pemerintah Kota lewat Dinas PUPR manargetkan perbaikan total di ruas tersebut tahun depan. Sehingga untuk tahun ini perbaikan dilakukan agar jalan itu nyaman dilalui."Kita kemarin keliling sama Pak Wako dan teman-teman kepala dinas ingin pastikan kualitas bagus, rapi dan benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat," kata Agung di kantornya, Rabu (3/12/2025).Menurut Agung, perbaikan jalan tak hanya soal 'mulus' saja. Tetapi juga kenyamanan, keamanan, keselamatan dan semua faktor untuk kenyamanan pengendara."Kami tentu menyampaikan terimakasih kepada petugas di lapangan. Mereka ini bekerja maksimal agar Pekanbaru dapat semakin nyaman, tertata dan rapi," kata Agung.Sementara Kepala Dinas PUPR Pekanbaru Edward Riansyah mencatat ada 30-an ruas jalan diperbaiki. Seluruhnya ditarget tuntas pada 2025."Sekarang mulai perbaiki dan total sampai saat ini kita overlay sudah hampir semua paket. Ada sekitar 30-an ruas selesai tahun ini," kata pria yang akrab disapa Edu itu.Khusus Jalan Darma Bakti, Edu menyebut perbaikam dilakukan maksimal pada 2026 mendatang. Sebab, ruas jalan di Kecamatan Payung Sekaki itu butuh drainase agar aspal tak mudah rusak."Di Sigunggung (Payung Sekaki) sementara kita tutup biar nyaman dilalui dan akan kita target drainase tahun depan. Maksimalnya tahun depan kita kerjakan," kata Edu. Tonton juga video "Walkot Pekanbaru Raih detikcom Awards: Inovasi Kami Sejalan Jaga Bumi"[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-15 09:01