Kenali Penyebab Osteoporosis, Salah Satunya karena "Mager"

2026-01-16 07:53:48
Kenali Penyebab Osteoporosis, Salah Satunya karena
JAKARTA, - Osteoporosis adalah penyakit tulang yang sering disebut sebagai “the silent disease” karena secara perlahan melemahkan tulang dan akhirnya patah. Penyakit  tidak menunjukkan gejala yang jelas di awal.Adapun, osteoporosis terdiri dari kata “osteo” yang artinya tulang, dan “porosis” yang artinya keropos. Jadi, osteoporosis adalah pengeroposan tulang.“Kalau tulangnya baik, dia akan padat. Tapi, kalau dia memang ada keropos tulang, kepadatannya berkurang, sehingga strukturnya itu berkurang,” tutur dr. Daniel Petrus Marpaung, SpOT (K) dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk, kepada Kompas.com di Jakarta Selatan pada Kamis .Akibatnya, ketika seseorang yang mengalami osteoporosis mengalami cedera, ia lebih mudah untuk mengalami patah tulang. Mari mengenal lebih jauh soal osteoporosis.Baca juga: Ciri-ciri Patah Tulang pada Anak yang Sering Tak Disadari Orangtua Menurut DokterOsteoporosis dianggap terjadi karena seseorang jarang minum susu. Namun, dr. Daniel menuturkan bahwa penyebab osteoporosis bermacam-macam.Tulang akan terus bertumbuh mencapai puncaknya ketika seseorang menginjak usia sekitar 40 tahun. Setelah mencapai usia sekitar 48-50 tahun, penurunan tulang akan terjadi.“Wanita mulai mengalami yang namanya menopause. Karena hormon estrogennya yang rendah, maka wanita akan mengalami penurunan kepadatan tulang,” ungkap dr. Daniel.Pada usia tersebut, bukan hanya perempuan dengan menopause yang mengalami penurunan tulang. Pria pun bakal mengalaminya, meski terjadi lebih lambat.Baca juga: Mengapa Wanita Usia Menopause Rentan OsteoporosisDok. Freepik/shurkin_son Ilustras lansia latihan angkat beban.Ada juga penyebab osteoporosis karena malas gerak (mager).“Itu namanya disuse osteoporosis. Osteoporosis karena mager,” kata dr. Daniel.Dengan kata lain, disuse osteoporosis adalah pengeroposan tulang karena seseorang tidak bergerak dengan leluasa, dan ketika tulang kurang mendapatkan beban.Tubuh yang tidak bergerak secara aktif atau tidak digunakan, bisa menyebabkan kepadatan mineral tulang berkurang, dan berujung pada munculnya risiko pengeroposan.Baca juga: Banyak Orang Mager Hadapi Hari Senin, Ini Penjelasan Ahlikompas.com / Nabilla Ramadhian dr. Daniel Petrus Marpaung, SpOT (K) dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk, kepada Kompas.com di Jakarta Selatan pada Kamis .Disuse osteoporosis tidak hanya terjadi pada orang-orang yang malas gerak, tetapi juga mereka yang terlalu lama berbaring untuk bed rest karena kondisi kesehatan.“Mungkin dia pernah cedera di kaki atau mengalami kelumpuhan sehingga tidak bisa melakukan aktivitas. Itu juga termasuk di dalam disuse osteoporosis karena tidak bisa dipakai tulang-tulangnya dan sendi-sendinya,” jelas dr. Daniel.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-01-16 06:12