JAKARTA, - Apa yang terbesit di benak kalian, kalau denger ‘toxic relationship’? Kekerasan fisik dan verbal dalam hubungan? Situasi hubungan pacaran yang udah ngga berperan sebagai ‘rumah’ buat kalian? Atau bahkan mengarah ke hal yang berbau seksual?Pas aku lagi iseng scroll sosial media, aku sering banget nemuin kasus toxic relationship ini dan ceritanya beragam banget.Ada yang berani ngata-ngatain pasangannya, kayak komen soal penampilan fisik yang bikin pasangannya insecure dan ngga percaya diri, ada yang minta buat penuhin fetish si pelaku.Bahkan ada yang udah sampe berani nyakitin pasangannya secara fisik tapi setelahnya si pelaku bisa minta maaf sampe mohon-mohon dan ngebujuk rayu pasangannya dengan kasih hadiah-hadiah romantis, tapi polanya berulang lagi.Baca juga: 7 Alasan Harus Segera Keluar dari Toxic Relationship Menurut AhliMenakutkan tapi ini real adanya.Ngga semua orang sadar kalau mereka sedang ada di ‘toxic relationship’ alias hubungan yang ngga sehat.Ada yang bilang “sebenernya dia baik sih, cuma ya gitu deh kadang bikin capek”.Ada juga yang sudah menyadari bahwa hubungannya ngga sehat tapi masih susah banget buat ngelepasin, tapi takut kehilangan, takut sendirian, bahkan masih berharap kalau suatu hari nanti pasangannya bisa berubah.Di sisi lain, ada yang sudah berani pergi dan meninggalkan hubungan yang ngga sehat tersebut.Baca juga: Apa itu Toxic Relationship? Waspadai 10 Tandanya Berikut IniKarena rasa penasaranku akan toxic relationship ini belum terpuaskan, akhirnya aku coba reach out dan ngobrol sama beberapa temanku yang sedang dan pernah ada di toxic relationship. Apa alasan mereka bertahan sejauh itu untuk tetap ada di hubungan yang sudah tidak sehat.Obrolanku kali ini bermula dengan SA, salah satu temanku yang masih ada di situasi hubungan yang bisa dibilang kurang sehat, SA menggambarkan hubungannya sebagai sesuatu yang rumit dan juga penuh konflik, meskipun tidak menyebutkan secara langsung bahwa hubungannya adalah toxic.Menurutnya, masalah itu kerap muncul ketika pasangannya merasa kecewa dan menempatkan posisi sebagai orang yang paling tersakiti, entah mengapa alasannya dan SA juga tidak melakukan kesalahan apapun.“Padahal aku ngerasa aku ngga ngapa-ngapain, tapi pasti selalu ada aja yang bikin ribut dan debat, sampai ujung-ujungnya ngajak putus," kata dia.SA cenderung ragu untuk menyebut bahwa hubunganya dengan pasangan merupakan ciri-ciri dari toxic relationship.Meskipun begitu, SA dengan mantap akan melanjutkan hubungannya dengan pasangan hingga ke jenjang yang lebih serius.Baca juga: Pasangan Kerap Berubah, Bisa Jadi Tanda Toxic Relationship
(prf/ega)
Dari Denial sampai Berani Pergi, Cerita Gen Z Menghadapi Toxic Relationship
2026-01-12 06:08:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:55
| 2026-01-12 05:33
| 2026-01-12 03:38










































