Dari Denial sampai Berani Pergi, Cerita Gen Z Menghadapi Toxic Relationship

2026-01-12 06:08:52
Dari Denial sampai Berani Pergi, Cerita Gen Z Menghadapi Toxic Relationship
JAKARTA, - Apa yang terbesit di benak kalian, kalau denger ‘toxic relationship’? Kekerasan fisik dan verbal dalam hubungan? Situasi hubungan pacaran yang udah ngga berperan sebagai ‘rumah’ buat kalian? Atau bahkan mengarah ke hal yang berbau seksual?Pas aku lagi iseng scroll sosial media, aku sering banget nemuin kasus toxic relationship ini dan ceritanya beragam banget.Ada yang berani ngata-ngatain pasangannya, kayak komen soal penampilan fisik yang bikin pasangannya insecure dan ngga percaya diri, ada yang minta buat penuhin fetish si pelaku.Bahkan ada yang udah sampe berani nyakitin pasangannya secara fisik tapi setelahnya si pelaku bisa minta maaf sampe mohon-mohon dan ngebujuk rayu pasangannya dengan kasih hadiah-hadiah romantis, tapi polanya berulang lagi.Baca juga: 7 Alasan Harus Segera Keluar dari Toxic Relationship Menurut AhliMenakutkan tapi ini real adanya.Ngga semua orang sadar kalau mereka sedang ada di ‘toxic relationship’ alias hubungan yang ngga sehat.Ada yang bilang “sebenernya dia baik sih, cuma ya gitu deh kadang bikin capek”.Ada juga yang sudah menyadari bahwa hubungannya ngga sehat tapi masih susah banget buat ngelepasin, tapi takut kehilangan, takut sendirian, bahkan masih berharap kalau suatu hari nanti pasangannya bisa berubah.Di sisi lain, ada yang sudah berani pergi dan meninggalkan hubungan yang ngga sehat tersebut.Baca juga: Apa itu Toxic Relationship? Waspadai  10 Tandanya Berikut IniKarena rasa penasaranku akan toxic relationship ini belum terpuaskan, akhirnya aku coba reach out dan ngobrol sama beberapa temanku yang sedang dan pernah ada di toxic relationship. Apa alasan mereka bertahan sejauh itu untuk tetap ada di hubungan yang sudah tidak sehat.Obrolanku kali ini bermula dengan SA, salah satu temanku yang masih ada di situasi hubungan yang bisa dibilang kurang sehat, SA menggambarkan hubungannya sebagai sesuatu yang rumit dan juga penuh konflik, meskipun tidak menyebutkan secara langsung bahwa hubungannya adalah toxic.Menurutnya, masalah itu kerap muncul ketika pasangannya merasa kecewa dan menempatkan posisi sebagai orang yang paling tersakiti, entah mengapa alasannya dan SA juga tidak melakukan kesalahan apapun.“Padahal aku ngerasa aku ngga ngapa-ngapain, tapi pasti selalu ada aja yang bikin ribut dan debat, sampai ujung-ujungnya ngajak putus," kata dia.SA cenderung ragu untuk menyebut bahwa hubunganya dengan pasangan merupakan ciri-ciri dari toxic relationship.Meskipun begitu, SA dengan mantap akan melanjutkan hubungannya dengan pasangan hingga ke jenjang yang lebih serius.Baca juga: Pasangan Kerap Berubah, Bisa Jadi Tanda Toxic Relationship


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-12 04:31