Kala Korban Bencana Aceh Minta Bantuan ke Dunia Internasional...

2026-01-14 18:17:45
Kala Korban Bencana Aceh Minta Bantuan ke Dunia Internasional...
BANDA ACEH, - Sudah lebih dari tiga pekan, korban banjir bandang dan tanah longsor di Aceh terpaksa tidur di tempat pengungsian.Mereka belum dapat kembali ke rumah masing-masing karena kondisi rumah yang rusak dan tertimbun lumpur.Pada malam hari, mereka tidur dalam kegelapan. Sementara pada pagi harinya kembali ke rumah hanya untuk membersihkan lumpur di halaman.Hal ini dirasakan Maulida, warga Desa Dayah Husen, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya.Untuk menenangkan hati dan pikiran, mereka berkumpul di dapur umum yang telah dijadikan posko bersama."Kami berkumpul bersama untuk saling menenangkan hati, walaupun ketika kembali ke rumah pasti menangis," ungkap Maulida saat ditemui Kompas.com, Senin malam.Baca juga: Bupati Aceh Utara Ajak Kepala BNPB Lihat Dahsyatnya Kerusakan Akibat Bencana BanjirWarga Desa Dayah Husen menghadapi kesulitan besar untuk membersihkan desa dan rumah mereka yang tertimbun lumpur tebal dan kayu-kayu besar akibat banjir.Menurut Mukhlis (41), salah satu warga, satu-satunya cara untuk membersihkan kondisi tersebut adalah dengan menggunakan alat berat."Tidak bisa pakai tenaga manusia. Lumpurnya tebal dan keras sekali, ini sudah tiga minggu lebih. Kami betul-betul tidak mampu," kata Mukhlis.Mukhlis menjelaskan, desa mereka memang sering dilanda banjir. Namun kali ini adalah yang terparah.Baca juga: 2 Lembaga PBB Disebut Sudah Terima Surat Pemprov Aceh Terkait Bantuan BencanaIa tidak pernah membayangkan betapa ganasnya banjir yang bercampur kayu dan lumpur menghantam desanya."Desa Dayah Husen kini penuh lumpur. Bahkan jalan setapak rabat beton sudah jadi tanah lumpur. Desa kami sekarang sudah seperti dalam hutan, padahal ini desa," ujarnya dengan nada sedih.Mukhlis menambahkan, Desa Dayah Husen adalah desa paling ujung di Kecamatan Meurah Dua.Saat banjir melanda, desa mereka sempat terisolir karena tidak ada akses jalan. Namun, kebutuhan masyarakat saat ini sudah terpenuhi setelah akses jalan dibuka dan bantuan mulai berdatangan.Meski demikian, mereka masih kesulitan untuk membersihkan lumpur dan kembali ke rumah.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-01-14 16:51