Pernah Curi Senpi Brimob, Residivis H Kembali Ditangkap setelah Bobol Rumah di Cipondoh

2026-01-30 18:43:57
Pernah Curi Senpi Brimob, Residivis H Kembali Ditangkap setelah Bobol Rumah di Cipondoh
JAKARTA, — Seorang residivis berinisial H kembali ditangkap polisi setelah membobol rumah kosong di Jalan Kampung Poris Assalam, Cipondoh, Kota Tangerang, pada Jumat .Pelaku berjalan kaki berkeliling permukiman untuk mencari rumah yang ditinggal penghuninya.Setelah memastikan situasi aman, ia memanjat pagar dan merusak teralis jendela untuk masuk ke dalam rumah.“Pelaku terlihat keluar masuk rumah dengan memanjat pagar, lalu merusak teralis jendela rumah,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto dalam keterangan tertulis, Sabtu .Begitu berhasil masuk, H menggasak 50 gram emas, uang tunai Rp 25 juta, dan satu unit ponsel. Total kerugian korban ditaksir mencapai Rp 126 juta.Baca juga: Residivis Bobol Rumah di Tangerang, Gasak 50 Gram Emas dan Uang Puluhan Juta RupiahH dikenal sebagai residivis spesialis pembobol rumah kosong. Pelaku juga tercatat sudah tiga kali masuk dan keluar penjara.Pada 2017, ia pernah ditangkap setelah mencuri senjata api dari rumah seorang personel Brimob.“Pada 2017, pelaku menyatroni rumah Brimob dan mencuri senjata api (senpi),” kata Budi.Setelah bebas, H kembali melakukan aksi serupa pada 2021 dan 2022.Baca juga: Maling 50 Gram Emas di Tangerang Ditangkap Polisi di CengkarengSetelah beberapa hari diburu, H ditangkap di bawah jembatan layang Cengkareng, Jakarta Barat, pada Selasa .Dalam pemeriksaan, pelaku mengaku hasil curiannya digunakan untuk membeli narkoba jenis sabu.“Kepada petugas, H mengaku melakukan aksinya untuk modal jual beli narkoba jenis sabu,” ujar Budi.Pelaku kini ditahan di Polda Metro Jaya dan dijerat Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan, dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara.Polisi juga menyita dua sepeda motor dan sejumlah perhiasan emas sebagai barang bukti.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-30 18:44