43,5 Persen Penduduk Indonesia Sulit Beli Pangan Sehat, Ini Sebabnya Kata Pakar UGM

2026-01-15 21:52:18
43,5 Persen Penduduk Indonesia Sulit Beli Pangan Sehat, Ini Sebabnya Kata Pakar UGM
- Laporan dari The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) baru-baru ini menyajikan data yang mengkhawatirkan: sebanyak 43,5 persen penduduk Indonesia tidak mampu membeli pangan sehat.Keterbatasan akses dan biaya yang mahal menjadi penyebab utama sulitnya masyarakat mengonsumsi makanan yang memenuhi standar gizi ideal.Menanggapi laporan tersebut, Guru Besar Bidang Teknologi Pangan UGM, Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc., mengakui bahwa harga kebutuhan pangan sehat di Indonesia memang relatif mahal.Baca juga: Genetik Langka Bisa Membuat Makanan Sehat Jadi Berbahaya, Kok Bisa?Dikutip dari laman resmi UGM, Sri menjelaskan bahwa kebutuhan gizi ideal setiap individu adalah sebesar 2.150 kkal untuk tiga kali makan dalam sehari.Jumlah kalori ini idealnya terbagi menjadi komponen penting yang meliputi karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin.Namun, tidak semua masyarakat dapat memenuhi seluruh komponen gizi tersebut, terutama komponen protein hewani yang harganya cenderung mahal.“Nah kalau mau menjangkau yang protein nabati, protein hewani, itu sehari-hari bisa mencapai Rp 40.000 untuk satu orang,” ungkap Prof. Sri Raharjo pada Senin .Sri mengatakan, akibat harga bahan pangan yang mahal, masyarakat sering kali hanya bergantung pada satu sumber nutrisi utama.“Komponen utama dari kalori makanan yang diandalkan hanya sekedar karbohidrat. Sedangkan komponen protein itu relatif terbatas. Karena nanti kalau sudah masuk pada pangan-pangan yang mengandung protein, terutama protein hewani harganya akan lebih mahal,” terangnya.Sri memperkirakan, jika satu orang dewasa memenuhi kebutuhan seluruh komponen gizi tersebut, biaya yang dibutuhkan dapat mencapai Rp 1,2 juta per bulan.Untuk satu keluarga dengan empat anggota, biaya makan sehat bisa mencapai hingga Rp 5 juta per bulannya.Biaya tinggi ini kemudian menjadi penghalang utama bagi sebagian besar penduduk Indonesia.Sri membandingkan biaya ini dengan pendapatan rata-rata rumah tangga.“Nah sekarang, berapa banyak rumah tangga atau kepala keluarga itu yang penghasilannya katakan 2 kali dari itu. Kalau ditetapkan pada nilai segitu, sepertinya proporsi kepala keluarga atau rumah tangga yang penghasilannya katakan sekurangnya Rp 10 juta. Itu mungkin kurang dari 30 persen penduduk Indonesia,” jelasnya.Fakta ini menegaskan bahwa proporsi penduduk Indonesia yang mampu mengonsumsi pangan sehat secara rutin masih sedikit.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

YouTube menyediakan laman Family Center untuk membantu orangtua memantau penggunaan YouTube akun anak-anak mereka. Di laman itu, terdapat pilihan untuk menambahkan profil YouTube Kids dan akun YouTube anak remaja mereka, sebagai akun yang diawasi.Laman Family Center sering digunakan oleh orangtua dengan anak berusia di bawah 18 tahun. Di laman ini, ada pengingat Take a Break dan Bedtime yang sudah aktif secara otomatis untuk pengguna berusia di bawah 18 tahun.Pengingat Take a Break adalah notifikasi yang mengingatkan pengguna untuk beristirahat sejenak dari melihat layar HP, sedangkan Bedtime adalah notifikasi yang mengingatkan anak bahwa waktu tidur mereka akan tiba dan mereka harus bersiap-siap untuk beristirahat.Sebagai pelengkap dua hal tersebut, pada akhir tahun ini, YouTube berencana untuk memperluas fitur Shorts Daily Time Limit pada orangtua.Ayah dan ibu yang menggunakan akun yang memiliki akun yang akan diawasi, bisa secara proaktif menetapkan batas durasi menjelajah feed YouTube Shorts yang tidak bisa diabaikan.Ini merupakan tambahan dari hal lain yang sudah kami miliki yaitu pengingat 'Taking a Break' dan 'Bedtime', tutur Graham.Baca juga: Jangan Biasakan Anak Main HP Sebelum Tidur, Ini Dampaknya Dok. Freepik/Freepik Orangtua bisa gunakan fitur Shorts Daily Time Limit agar anak tidak lupa waktu menonton YouTube Shorts. Terkait fitur pembatasan durasi menjelajah feed YouTube Shorts, Graham mengatakan, hal ini bisa membantu anak memahami regulasi waktu penggunaan platform digital mereka.Jadi, ketika anak-anak scrolling Shorts, aplikasi akan 'menyundul' mereka (memberi notifikasi), yaitu intervensi kecil yang menurut pakar perkembangan anak penting dalam pengaturan diri anak-anak, tutur dia.Anak-anak tetap diizinkan untuk memegang kendali akan akun YouTube untuk mengakses feed YouTube Shorts, tapi mereka tidak akan lupa waktu seperti sebelumnya.Melalui fitur Shorts Daily Time Limit yang sudah diatur oleh orangtua, anak jadi paham bahwa mereka hanya boleh mengakses YouTube Shorts berapa lama, sehingga lambat laun sudah terbiasa dan dengan sendirinya bisa mengatur waktu mereka di YouTube.Baca juga: Jangan Biasakan Anak Makan Sambil Main HP, Ini Kata Psikolog

| 2026-01-15 22:13