1.689 Siswa Prasejahtera di Bangkalan Terima Beasiswa Rp 1 Juta dari Pemprov Jatim

2026-02-03 04:11:05
1.689 Siswa Prasejahtera di Bangkalan Terima Beasiswa Rp 1 Juta dari Pemprov Jatim
BANGKALAN, - Ribuan siswa prasejahtera di Kabupaten Bangkalan menerima bantuan uang tunai senilai Rp 1.000.000 dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.Bantuan diberikan untuk mendukung pemerataan pendidikan di Bangkalan.Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Bangkalan, Pinky hidayati mengatakan, bantuan itu diberikan pada 1.689 siswa SMA, SMK dan SLB.Rinciannya,penerima di SMA 863 siswa, penerima di SMK 799 Siswa dan penerima di SLB 132."Masing-masing menerima sebesar Rp1 juta per siswa," kata Pinky, Kamis .Baca juga: Dulu Bermimpi Jadi Perawat, Kini Iin Mengajar Anak Prasejahtera Tanpa BiayaIa mengatakan, penyaluran bantuan itu dilaksanakan di empat titik yang berbeda dengan menggandeng salah satu bank yang telah ditunjuk."Penyerahannya di empat titik yakni SMKN 2 Bangkalan sebanyak 389 siswa, SMKN 1 Kamal 365 siswa, SMAN 1 Arosbaya 420 Siswa SMAN 1 Blega Siswa. Ini dilakukan untuk mempermudah siswa dalam pengambilan dan mendekatkan dengan domisili siswa," jelasnya.Selain itu, adanya bantuan beasiswa ini diharapkan bisa memutus angka putus sekolah di Bangkalan.Sehingga, siswa prasejahtera bisa terus mendapatkan pendidikan secara berkelanjutan.“Melalui beasiswa ini, Pemprov Jatim memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena keterbatasan ekonomi,” ungkapnya.Baca juga: Dedi Mulyadi: Anggaran Rp 600 Miliar untuk Beasiswa, Pastikan Anak Prasejahtera Bisa Sekolah“Program ini juga untuk menekan angka anak putus sekolah sekaligus mendukung pencegahan stunting melalui penguatan pendidikan dan kesejahteraan keluarga,” tambahnya.Ke depan, ia juga akan mendorong agar jumlah penerima beasiswa terus meningkat.Sehingga siswa prasejahtera bisa semakin banyak yang mendapat bantuan itu."Kami juga berharap, bantuan itu dimanfaatkan secara bijak oleh para siswa dan digunakan untuk menunjang kebutuhan belajar," imbuhnya.Baca juga: Beasiswa Prasejahtera LPDP Tahap 2 Tahun 2025, Cek Syarat DaftarnyaSementara itu, salah satu penerima, Moh Rosi mengaku bersyukur mendapat bantuan tersebut.Sebagian uangnya akan ia gunakan untuk membeli sepatu, sebab saat ini sepatu yang ia pakai sudah usang."Mau dipakai beli sepatu, karena sepatu saya sudah mulai mangap. Terimakasih atas bantuannya," pungkasnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 03:28