BENCANA banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025, menimbulkan dampak kemanusiaan yang sangat besar.Data terakhir BNPB, jumlah korban tewas mencapai 914 jiwa, sementara 389 orang masih dinyatakan hilang.Aceh mencatat korban tewas tertinggi sebanyak 359 jiwa, Sumatera Utara 329 jiwa, dan Sumatera Barat 226 jiwa. Angka ini mencerminkan tragedi kemanusiaan yang tidak dapat dianggap sebagai peristiwa alam semata. Intensitas bencana yang meningkat adalah cermin rusaknya ekosistem akibat eksploitasi yang tidak terkendali.Ketika negara tidak menjalankan otoritasnya dengan tegas, dan para pengusaha mengeksploitasi lingkungan tanpa etika, rakyatlah yang menanggung dampak paling berat.Banyak dari mereka kehilangan harta benda, kehilangan orang-orang yang mereka kasihi, bahkan kehilangan harapan melanjutkan hidup.Jika mencermati berbagai video yang beredar mengenai banjir bandang dan longsor yang melanda ekosistem Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara, tampak jelas ribuan gelondongan kayu terbawa arus.Pemandangan ini bukan semata-mata dampak dari hujan deras, melainkan sinyal kuat bahwa lingkungan sedang memberikan peringatan atas praktik pengelolaan ruang yang tidak berkelanjutan.Baca juga: Paradoks Diplomasi: Keraguan Manfaatkan Solidaritas Global Saat BencanaFenomena tersebut menegaskan bahwa ketika mekanisme pengawasan negara melemah dan praktik pemanfaatan sumber daya alam tidak dilakukan dengan kehati-hatian, maka kerentanan ekologis akan meningkat secara signifikan.Bencana ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada November 2025, diproyeksikan menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat signifikan, mencapai Rp 68,67 triliun.Estimasi ini mencakup berbagai komponen, mulai dari kerusakan rumah penduduk, hilangnya pendapatan rumah tangga, terganggunya fungsi infrastruktur jalan dan jembatan, hingga hilangnya produksi pertanian akibat kawasan produktif yang tergenang banjir dan longsor. (CELIOS, 1/12/2025)Jika dirinci secara provinsi, Aceh diperkirakan menanggung kerugian sekitar Rp 2,2 triliun, disusul Sumatera Utara dengan Rp 2,07 triliun, serta Sumatera Barat yang mengalami kerugian sekitar Rp 2,01 triliun.Angka-angka ini tidak hanya menggambarkan intensitas bencana, tetapi juga mengindikasikan rapuhnya ekosistem daratan Sumatera ketika menghadapi cuaca ekstrem dan tekanan penggunaan lahan yang tinggi. (CELIOS, 1/12/2025)Analisis awal menunjukkan bahwa bencana tersebut tidak semata-mata dipicu oleh intensitas hujan, tetapi juga oleh lemahnya integritas ekologis akibat alih fungsi lahan melalui deforestasi untuk perkebunan sawit serta ekspansi kegiatan pertambangan.Degradasi tutupan hutan menyebabkan berkurangnya kemampuan kawasan untuk menahan air, meningkatkan laju aliran permukaan, dan memicu longsor dalam skala luas.
(prf/ega)
Stimulus Fiskal Daerah dan Percepatan Pengadaan Pascabencana
2026-01-12 04:14:55
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:33
| 2026-01-12 03:21
| 2026-01-12 02:54
| 2026-01-12 02:46
| 2026-01-12 02:27










































