JAKARTA, – Industri pertambangan batu bara nasional diperkirakan masih menghadapi tantangan besar pada 2026. Tekanan datang dari dinamika ekonomi global, arah kebijakan energi, serta meningkatnya beban biaya operasional.Meski demikian, permintaan batu bara Indonesia dinilai masih bertahan, terutama dari negara-negara Asia yang mengandalkan batubara untuk menjaga ketahanan energi.Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani mengatakan, prospek industri batu bara pada 2026 sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global dan kebijakan energi negara konsumen.Dari sisi permintaan, batu bara Indonesia masih dibutuhkan meskipun pertumbuhannya terbatas.Baca juga: Anak Buah Purbaya Soroti Dampak Restitusi Pajak Batu Bara“Berdasarkan data yang kami miliki, permintaan impor batu bara global saat ini cenderung stagnan dan hanya mengalami peningkatan terbatas di kisaran 0,5 persen,” ujar Gita, dikutip dari Kontan.co.id, Senin .Dari sisi harga, pergerakan harga batu bara dinilai masih sulit diprediksi karena volatilitas yang tinggi dan pengaruh berbagai faktor eksternal.Dengan kondisi tersebut, tren harga batu bara pada 2026 diperkirakan tidak jauh berbeda dengan 2025, meskipun pelaku usaha berharap perbaikan harga agar memberi ruang yang lebih positif bagi industri.Tekanan juga datang dari transisi energi global. Namun, dalam jangka menengah, batu bara masih menjadi sumber energi penting bagi banyak negara berkembang karena keandalan pasokan dan keterjangkauan harga.Baca juga: Di Tengah Tekanan Harga Batu Bara, Adaro Andalan (AADI) Jaga Kinerja 2025Pasar utama ekspor batu bara Indonesia hingga kini masih berasal dari kawasan Asia, seperti China, India, Korea Selatan, serta negara-negara Asia Tenggara. Namun, pola permintaan dari negara-negara tersebut kian selektif.Dari sisi kebijakan domestik, Gita menyebut kebijakan domestic market obligation (DMO), royalti, dan perizinan merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga ketahanan energi nasional dan penerimaan negara.“Kewajiban tersebut pada prinsipnya telah menjadi komitmen pelaku usaha dan dari tren yang ada, realisasi DMO batu bara selama ini dapat dipenuhi dengan baik,” ujarnya.Namun, tantangan utama industri terletak pada kebijakan harga jual batu bara untuk kelistrikan sebesar 70 dollar AS per ton yang berlaku sejak 2018, sementara tekanan biaya produksi terus meningkat.Baca juga: Akuisisi Tambang Emas Australia, BUMI Kurangi Ketergantungan Batu BaraSelain itu, pelaku usaha juga mencermati adanya selisih antara harga batu bara acuan (HBA) yang digunakan sebagai dasar perhitungan kewajiban dengan harga jual aktual, yang dinilai memengaruhi kinerja keuangan perusahaan.Tantangan industri kian kompleks pada 2025 dan diperkirakan berlanjut ke 2026. Dari sisi teknis, penerapan kebijakan biodiesel B40 meningkatkan biaya produksi secara signifikan serta berdampak pada operasional alat berat dan biaya pemeliharaan.Dari sisi nonteknis, muncul berbagai wacana kebijakan, seperti target penurunan produksi, penerapan bea keluar batu bara, perubahan kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) menjadi 50 persen, hingga larangan penggunaan jalan umum di Sumatera Selatan per 1 Januari 2026.
(prf/ega)
Industri Batubara Diprediksi Masih Tertekan hingga 2026
2026-01-12 04:45:57
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:30
| 2026-01-12 04:31
| 2026-01-12 04:08










































