- Peunaga Pasi, sebuah desa di pesisir Aceh Barat yang memukau lewat deburan ombaknya perlahan bertransformasi menjadi desa wisata mandiri melalui tangan seorang akademisi.Dosen Teknik Mesin dari Universitas Teuku Umar (UTU) Herri Darsan hadir dengan tulus membawa perubahan melalui program hibah Bina Desa.Ia melakukan kolaborasi dengan tim dari Universitas Syiah Kuala yang berfokus pada 2 hal, yakni pengelolaan sampah berbasis teknologi dan penguatan tata kelola pariwisata desa.Problematika yang tak kunjung terurai di wilayah pesisir adalah tumpukan sampah plastik dan organik. Dulu, warga Desa Peunaga Pasi terbiasa membakar sampah mereka.Sekarang, masyarakat mulai mengubah kebiasaan tersebut sejak hadirnya teknologi pencacah sampah plastik dan ranting.Baca juga: Kemendikti Tampilkan 137 Produk Hasil Riset SEMESTA“Pantai-pantai di pesisir itu banyak sampah, kami olah dengan mesin pencacah. Untuk sampah organik dicacah dan dibuat menjadi pupuk kompos,” jelas Herri melansir situs Kemendikti saintek, Minggu .Manfaat pengabdian Herri dan tim sangat dirasakan oleh warga. Sekretaris Desa Peunaga Pasi, Muhammad Nasir menjelaskan banyak perubahan positif dari masyarakat."Setelah dibimbing UTU, masyarakat kami sekarang sudah tahu cara memisahkan sampah organik dan non-organik," terang Nasir.Ia menambahkan, kini sampai diubah menjadi pupuk kompos yang bernilai ekonomis menggunakan mesin pencacah plastik.Selaras dengan Nasir, Kepala Desa Peunaga Pasi, Anwar Dewa mengakui bahwa kehadiran Herri dan tim membuka pemikiran warganya tentang pengelolaan sampah."Pengaruhnya besar sekali. Dengan mesin pencacah ini, kami bisa mengelola sampah menjadi kompos, masyarakat sudah dapat keuntungan dari pupuk tersebut,” tuturnya.Baca juga: Kemendikti: 60 Kampus dan 18.000 Lebih Mahasiswa Terdampak Banjir SumateraTak berhenti pada masalah lingkungan, Herri juga melakukan pengabdian pada aspek manajemen wisata melalui Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) setempat.“Melalui Hibah Bina Desa, Universitas Teuku Umar dan Universitas Syiah Kuala berkolaborasi dengan dua mitra, yaitu BUMD dan Pokdarwis kita fokus pada pengelolaan wisata,” ujar Herri.Tim mengembangkan sistem keuangan online, SOP, serta aplikasi buku kas digital untuk menjaga transparansi pendapatan desa.“Website ini memudahkan para wisatawan untuk memilih menu wisata yang diinginkan. Ada beberapa paket wisata yang disediakan. Selain itu BUMD memerlukan transparansi, jadi kami buat aplikasi buku kas yang bisa diakses masyarakat dan pihak pengelola,” jelas Herri.
(prf/ega)
Pengabdian Dosen UTU di Pesisir Aceh Barat, Atasi Sampah hingga Jadi Desa Wisata
2026-01-11 14:31:42
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 14:29
| 2026-01-11 13:18
| 2026-01-11 13:15
| 2026-01-11 12:48










































