Timeline Orang Lain jadi Sumber Cemas: Gen Z dan LinkedIn Anxiety

2026-01-12 16:29:59
Timeline Orang Lain jadi Sumber Cemas: Gen Z dan LinkedIn Anxiety
JAKARTA, - Sadar gak, sejak beberapa tahun kebelakang platform LinkedIn semakin ramai dan aktif?Banyak pengguna dari berbagai generasi yang menggunakan platform ini untuk berbagai tujuan, seperti posting pencapaian, cari networking, atau sekedar job hunting.Tapi di sisi lain, ada loh yang justru merasa takut, cemas, insecure, dan running out of time.Muncul term baru yang disebut ‘LinkedIn Anxiety’, bagaimana suatu platform yang seharusnya membantu, tapi justru membuat penggunanya kena mental! Bagaimana Gen Z melihat fenomena ini?Baca juga: Survei LinkedIn 2025 Sebut Permintaan Green Skills di Dunia Kerja MeningkatTiga orang Gen Z punya definisi dan pengalaman berbeda terkait fenomena ini, mulai dari ketakutan bersaing dengan ribuan orang untuk 1 pekerjaan, merasakan pressure dari pencapaian orang lain, hingga enggan buka LinkedIn selama setahun!“LinkedIn anxiety itu nyata, dimana aku merasa takut, khawatir akan sesuatu yang gak pasti. Kita menggantungkan harapan dan peruntungan melalui aplikasi untuk dapat kerjaan, begitu pula dengan orang lain, padahal posisi yg kita tuju itu cuma untuk 1 orang," ujar Syasa (22 tahun)“Ketakutan saat membuka LinkedIn, mungkin untuk beberapa orang itu nyata. Gue pribadi lebih ke ter-pressure karena melihat pencapaian orang lain," kata Zahra (25).Baca juga: 20 Kampus Penghasil Lulusan dengan Kesuksesan Karier Tertinggi Versi LinkedIn“LinkedIn anxiety menurut aku lebih ke perasaan takut tertinggal dari pencapaian orang. Gimana ya, kayak membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain. BTW ini real yaa, aku ngerasain sendiri, apalagi waktu aku gap year ituu, aku trauma nggak mau buka LinkedIn setahun lebih, sampe aku uninstall HAHAHA," ucap Suci (21).Tak jarang, Suci merasa minder ketika melihat pencapaian orang-orang sebayanya yang dipamerkan di LinkedIn.“Ketika temenku udah bisa magang di 2-3 company, bahkan ada yang jadi karyawan tetap di KAP. Terakhir ngerasain sih 2 minggu yg lalu, karena baru buka LinkedIn, pas lihat notif dan kepoin akunnya, pada keren-keren semua, also mereka aktif organisasi juga, sedangkan nasib aku keterbalikan dari mereka huhu," ujar Suci.“Aku juga jadi gak pernah aktif di akun (Instagram) pertama ku, karena tiap kali aku buka, aku selalu merasa down, tertekan sama pencapaian mereka. Dan ini ngaruh hingga ke real life, aku jadi kurang up to date sama kabar mereka," kata dia.Pengalaman unik juga dibagikan oleh Syasa. Niat awal ingin membangun koneksi, tapi kok rasanya jadi seperti Bumble?“Duh ini kaya masalah personal sebenernya, cuma LinkedIn tuh kaya Bumble dalam bentuk professional aku rasa. Orang random tuh kadang DM dengan dalih pengen berkoneksi tapi ya sebenernya ada tujuan lain dari cara dia bawa topik," kata Syasa.“Iya kak, takut bangeeet. Aku sekarang jadi selektif nerima orang buat koneksi. Aku kira mereka itu HR tapi kok kaya enggak profesional gituu huhuhu. Ngobrolnya juga random gitu deh kak, takut," ujar dia.Baca juga: 5 Prompt AI Foto Formal untuk CV dan LinkedIn Terbaik, Cukup Unggah SelfieMerasa hilang arah dan FOMO, bikin sebagian gen Z bingung untuk cerita ke siapa. Ke teman? Permasalahannya sama. Ke psikolog? Dompet kosong. ChatGPT jadi jawaban.


(prf/ega)

Berita Terpopuler