Seskab Rinci Capaian Penanganan Bencana Sumatera: Jalan Putus Tersisa 6, 12 Jembatan Tersambung

2026-01-12 16:35:39
Seskab Rinci Capaian Penanganan Bencana Sumatera: Jalan Putus Tersisa 6, 12 Jembatan Tersambung
JAKARTA, - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memerinci capaian penanganan pemerintah pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera selama sebulan terakhir.Saat ini, hanya tersisa 6 jalan yang masih dalam proses penyambungan, dari total 78 jalan nasional yang terputus. Keenam jalan itu, yakni 4 titik di Aceh dan satu titik masing-masing di Sumut dan Sumbar."Bencana ada di tiga provinsi, terdampak 52 kabupaten. 78 jalan nasional putus. Per satu bulan, dari 78 tinggal 6 yang masih proses penyambungan. Empat titik di Aceh, dan ada di Sumbar, dan di Sumut," kata Teddy dalam konferensi pers penanganan bencana di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin .Baca juga: TNI Kerahkan Bantuan Logistik hingga Trauma Healing buat Korban Bencana SumateraTak hanya itu, penanganan juga terlihat dalam perbaikan jembatan lintas kabupaten/kota.Jembatan lintas kabupaten/kota tersebut dapat dibangun hanya dalam satu minggu. Padahal biasanya, dibutuhkan waktu 1 bulan ketika kondisi normal."Jembatan lintas kabupaten, banyak sekali jembatan yang menghubungkan kabupaten yang putus, sekarang per satu bulan, 12 jembatan yang sungainya lebar-lebar 50 meter ke atas, bahkan di Biereun itu sampai 180 meter, itu tersambung," tutur Teddy.Menurut Teddy, pembangunan jembatan itu menjadi prioritas agar jalur distribusi logistik kembali terbuka. Sementara itu, jalan yang belum tembus akan ditempuh melalui jalur udara.Baca juga: BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan di Pulau Jawa hingga Sumatera Terjadi Januari 2026Di sektor perumahan, pemerintah memastikan pembangunan hunian bagi warga terdampak terus dikebut dalam waktu singkat. Pihaknya juga menyiapkan pembangunan hunian dalam skala besar melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga.“Dalam satu bulan ini, seminggu ke depan, ada 600 rumah hunian yang akan jadi. Minggu depan, insyaallah jadi. Kemudian dari BNPB, ada 450 hunian. Bapak Presiden menginstruksikan ke Kepala Danantara untuk bangun secepat-cepatnya rumah hunian, 15.000 rumah," ucap dia.Di bidang kesehatan, ia menyampaikan layanan sejumlah rumah sakit telah kembali beroperasi secara menyeluruh setelah sempat lumpuh.Pemulihan layanan kesehatan dasar juga berlangsung cepat berkat kerja sama berbagai pihak. Dari 87 rumah sakit yang terdampak, kini seluruhnya bisa melayani pasien.Baca juga: Seskab Teddy Ungkap Kerja 53 Helikopter di Sumatera yang Sempat Dipertanyakan Keberadaannya"87 itu semuanya sudah bisa melayani pasien. Ada yang belum sempurna, tapi yang pasti dari 87 itu semuanya sudah bisa pasien datang, diobati, seperti itu. Kemudian ada 867 puskesmas yang lumpuh. Sekarang satu bulan tinggal delapan yang belum beroperasi," jelas Seskab.Lebih lanjut, ia mengungkapkan sektor pendidikan dan perekonomian mulai kembali bergerak di wilayah terdampak.Sejumlah pasar yang menjadi tempat belanja masyarakat mulai beroperasi. Menurutnya, kecepatan pemulihan tidak terlepas dari arahan Presiden Prabowo Subianto sejak awal masa tanggap darurat.Selain itu, keberhasilan pemulihan satu bulan pertama tersebut merupakan hasil semangat kebersamaan seluruh elemen di lapangan.“Bapak Presiden dari awal menginstruksikan kepada semuanya, agar secepat mungkin lakukan dengan segera untuk pemulihan. Ya ini hasilnya. Kenapa bisa? Karena di lapangan para petugas dan warga nyatanya itu sama-sama, saling bantu, saling kerja sama, gotong royong semua. Petugas, warga, relawan, jadi satu semua," tandas Teddy.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-12 14:38