Koster: Bali Punya Sistem Kalender Sendiri, Namanya Tika, Tiap Bulan Ada 35 Hari

2026-01-17 02:31:51
Koster: Bali Punya Sistem Kalender Sendiri, Namanya Tika, Tiap Bulan Ada 35 Hari
DENPASAR, - Bali akan membuat kalender Bali sesuai dengan kearifan lokal Bali yakni dalam sebulan 35 hari.Gubernur Bali, Wayan Koster mengatakan, di Bali sejak dulu dikenal Tika, dengan jumlah hari sebanyak 35 hari dalam sebulan.Namun selama ini di Bali tidak menggunakan kalender ini, melainkan kalender masehi.Padahal dalam perhitungan hari raya, hari baik dan lainnya menggunakan pedoman 35 hari dalam sebulan."Beda dengan kalender yang digunakan selama ini, ada yang 30, 31, 28 untuk Februari. Ada selisih, tidak klop. Akibatnya pada hari-hari baik tertentu mengalami pergeseran," kata Koster dalam Pasamuhan Agung Sabha Kretha Hindu Dharma Nusantara (SKHDN) Pusat tahun 2025, Selasa .Baca juga: TPA Bangli Jadi Solusi Darurat Sampah Bali Sebelum Proyek WtE RampungSehingga menurutnya, lebih baik kembali pada kalender Bali yang menurutnya murni ajaran Bali."Kalender yang sekarang referensi mana? Saya lebih percaya kalau kita gunakan tika karena ada dan fungsinya, Purnama, Tilem, kenapa tidak itu pakai kalender untuk Bali," tambahnya."Tunjukkan pada Indonesia dan dunia jika Bali punya kalender sendiri berdasarkan kearifan lokal. Kembalikan kepada jati diri," katanya.Baca juga: H-2 Tahun Baru, Kondisi Pelabuhan Ketapang Banyuwangi Terpantau Lengang, Penumpang ke Bali MenurunKetua Umum Sabha Kretha Hindu Dharma Nusantara (SKHDN) Pusat, Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pamayun menambahkan Tika bermakna titi kahuripan."Tika warisan leluhur Bali, penanggalan asli Bali berdasarkan Catur Bandana atau Catur Loka Pala, ada surya, bulan, bintang, bumi," kata Ida Shri.Surya bermakna warsa atau tahun, bulan bermakna sasih, bintang terkait wuku, dan bumi atau hari."Rahina Bali, ada 35 hari dalam sebulan," katanya.Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul Bali Akan Buat Kalender Sendiri, Sebulan 35 Hari, Koster: Kembali Kepada Jati Diri.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Lalu ketiga, penguatan talenta keamanan siber ASN, baik di pusat maupun di daerah, dan terakhir, pendampingan intensif melalui Ekosistem Keamanan Siber Nasional.Dengan empat langkah strategis ini, keamanan siber tidak lagi bersifat reaktif, tetapi menjadi sistem pertahanan yang proaktif, terstandarisasi, dan terintegrasi untuk melindungi ruang digital Indonesia, jelasnya.Sementara itu, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Nugroho Sulistyo Budi mengatakan, sinergi, kolaborasi, kerja sama, persatuan, kerukunan, adalah rumus keberhasilan suatu bangsa dalam mewujudkan transformasi nasional.Menurutnya, BSSN dan Kementerian PANRB terus berupaya meningkatkan sinergi dan kolaborasi di berbagai bidang, termasuk dalam pelaksanaan program percepatan transformasi digital yang aman.Baca juga: Rapat bersama DPR, Menteri PANRB Sampaikan Progres dan Proyeksi Program Kerja Kementerian PANRBTentu saja percepatan transformasi itu untuk mendukung Asta Cita dan Program Prioritas Presiden menuju Indonesia Emas 2045.Kami sangat mengapreasiasi Kementerian PANRB yang telah memberikan arahan dan dukungan sehingga terbuka ruang kolaborasi yang kuat antar kedua institusi, kata Sulistyo.Kolaborasi itu, kata dia, diwujudkan dengan menempatkan keamanan siber dan sandi sebagai enabler dan trust builder, serta mengintegrasikan keamanan siber dan sandi dalam kebijakan serta peta jalan penyelenggaraan transformasi digital.Hal tersebut, dilakukan untuk meningkatkan aksesibilitas dan kualitas layanan kepada masyarakat.

| 2026-01-17 01:22