- Para ilmuwan akhirnya menemukan penyebab mengapa beton pada bangunan Romawi kuno mampu bertahan ribuan tahun.Salah satu contohnya adalah Pantheon, bangunan berkubah besar yang telah berdiri hampir 2.000 tahun meski berkali-kali diterjang gempa, letusan gunung berapi, hingga terendam air laut.Pada 2023–2024, arkeolog menemukan lokasi konstruksi Romawi yang terkubur abu letusan Gunung Vesuvius pada 79 Masehi.Lokasi di Pompeii itu ditemukan dalam kondisi hampir utuh dan memberi gambaran langka mengenai teknik pembangunan Romawi yang sesungguhnya.Di dalamnya, para peneliti menemukan tumpukan material yang tertata rapi, termasuk bahan untuk mencampur beton sehingga dapat bertahan lama.Lantas, apa rahasia ketahanan beton Romawi kuno?Baca juga: Rumah Bambu Lebih Tahan Gempa daripada Rumah Beton? Ini Hasil SurveinyaIlmuwan material dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Admir Masic, mengungkapkan rahasia kekuatan beton Romawi kuno terletak pada teknik yang disebut “pencampuran panas” atau hot-mixing.Teknik ini dilakukan dengan mencampurkan abu vulkanik atau pozzolan dengan kapur tohor (quicklime).Kedua bahan tersebut dicampurkan untuk kemudian dicampurkan lagi dengan air dan bereaksi. Reaksi tersebut menghasilkan campuran dengan panas tinggi yang dapat mengubah struktur kimia beton.Masic mengidentifikasi teknik tersebut melalui serangkaian eksperiman yang dilakukan pada 2023. Ia mengatakan terdapat 3 manfaat pencampuran panas tersebut.“Pertama, ketika beton dipanaskan hingga suhu tinggi, muncul reaksi kimia yang tidak terjadi bila hanya memakai kapur mati. Kedua, suhu tinggi membuat proses pengeringan dan pengerasan jauh lebih cepat sehingga konstruksi bisa dilakukan lebih efisien," jelasnya, dilansir dari Science Alert, Rabu .Baca juga: Peneliti Kembangkan Baterai Beton, Disebut Bisa Simpan Energi Listrik untuk Rumah TanggaSementara itu, manfaat ketiga yang juga paling krusial bahwa bongkahan kapur atau lime clasts yang tersisa di dalam beton membuat material tersebut mampu 'menyembuhkan' dirinya sendiri.Retakan yang muncul akan mengarah ke gumpalan kapur yang berpermukaan luas. Ketika air masuk, kapur bereaksi membentuk larutan kaya kalsium yang kemudian mengeras menjadi kalsium karbonat dan menutup retakan secara alami.Masic mengatakan ada nilai historis yang penting dari material tersebut serta ada pula nilai ilmiah dan teknologi yang penting untuk dipahami.“Material ini dapat menyembuhkan dirinya sendiri selama ribuan tahun, reaktif, dinamis, dan mampu bertahan dari gempa bumi, gunung berapi, air laut, serta degradasi alam lainnya," kata Masic.Baca juga: Ilmuwan Ubah Ampas Kopi Jadi Campuran Beton, Diklaim Kuat dan Ramah Lingkungan
(prf/ega)
Terungkap, Ini Rahasia Beton Romawi Bisa Tahan 2.000 Tahun
2026-01-12 14:13:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 14:17
| 2026-01-12 13:43
| 2026-01-12 12:57
| 2026-01-12 12:40










































