Skyseat Concept, Inovasi Karoseri New Armada di Bus PO Borlindo

2026-01-14 09:17:23
Skyseat Concept, Inovasi Karoseri New Armada di Bus PO Borlindo
JAKARTA, - Karoseri New Armada memiliki inovasi untuk konfigurasi bangku bus dengan sebutan Skyseat Concept.Memanfaatkan ruang di atas kabin pengemudi, ada dua bangku paling depan, bisa menikmati pemandangan secara penuh.PO pertama yang menggunakan Skyseat Concept adalah PO Borlindo. Sebanyak dua unit Skylander R25 Aero baru saja dirilis dari Karoseri New Armada.Secara tampilan luar memang tidak jauh berbeda dengan Skylander R25 lain. Tapi saat masuk dari pintu depan, langsung disambut sekat pemisah kabin pengemudi dengan tangga ke tempat penumpang.Baca juga: Bus Listrik Trans Semarang Lakukan Uji Coba, Masih GratisA post shared by New Armada (PT. Mekar Armada Jaya) (@newarmada.official) Setelah naik tangga, ada dua bangku Skyseat Concept yang dipasang paling depan. Jadi posisinya tepat di atas kabin pengemudi, lebih tinggi dari bangku lain yang ada di belakangnya.Deddy Hermawan, Design Development Karoseri New Armada mengatakan, Skyseat Concept menjadi inovasi terbaru dari Karoseri New Armada."Skyseat Concept bisa diterapkan pada sasis bus spaceframe. Karena area driver harus diturunkan," kata Deddy kepada Kompas.com, Kamis .Baca juga: Waspada Macet, Ada Perbaikan Jalan di Tol Jagorawi hingga 11 November 2025Jika area pengemudi diturunkan, tentu ruang di atas untuk Skyseat Concept bisa lebih lega. Penumpang yang duduk pun bisa lebih leluasa, tidak terasa sempit walau deknya lebih tinggi dari bangku lain.Bodi bus PO Borlindo dibangun di atas sasis Volvo B8R, sudah spaceframe sehingga leluasa untuk dijadikan Skyseat Concept. Untuk sasis spaceframe lain, kemungkinan juga bisa dibuat dengan konsep serupa, dari Mercedes-Benz, Hino, sampai Volvo dan Scania.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-14 09:00