Baterai Motor Listrik: SLA, LiFePO4, Lithium Ion, Mana yang Terbaik?

2026-02-04 03:10:51
Baterai Motor Listrik: SLA, LiFePO4, Lithium Ion, Mana yang Terbaik?
JAKARTA, - Motor listrik saat ini sudah mulai memiliki banyak pilihan dan pengguna.Terdapat berbagai merek, termasuk lokal, China, Jepang, dan India, yang digunakan untuk ojek online hingga perjalanan komuter harian.Berdasarkan jenis baterai motor listrik, secara umum dapat dibagi menjadi tiga kategori: SLA, LiFePO4, dan Lithium Ion.Baca juga: Kenapa Ban Belakang Motor Listrik Sulit Diganti? Ini Penjelasannya/FATHAN Bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di JakartaKetiga jenis baterai ini digunakan sesuai dengan kebutuhan masing-masing, sehingga memiliki kelebihan dan kekurangan.Abdul, pemilik Dolland Electric Motor, bengkel spesialis motor listrik di Jakarta, menjelaskan bahwa baterai SLA, yang mirip dengan aki kering, adalah jenis yang paling murah, paling aman, dan tidak mudah terbakar."Tapi kelemahannya, dia berat dan memakan tempat. Misalnya, ada enam baterai SLA, itu jadi 72 volt tetapi hanya mendapatkan 30 Ah. Bandingkan dengan LiFePO4, ukurannya sama, lebih ringan, dan bisa mencapai 60 Ah," kata Abdul kepada Kompas.com, belum lama ini.Baca juga: Daftar Mobil Matik di Bawah Rp 250 Juta di Akhir Tahun 2025"Karakter baterai SLA adalah saat tarikan awal, voltasenya langsung drop. Makanya terasa agak loyo saat digeber, tetapi ketika sudah jalan, voltasenya naik lagi," tambah Abdul.Kemudian, LiFePO4 atau Lithium Ferrophosphate sebenarnya masih relatif murah dan aman, tidak mudah terbakar.Namun, bobotnya terhitung masih lumayan berat, meskipun dimensinya tidak terlalu memakan tempat."Keunggulan LiFePO4 adalah ketika dipakai, voltasenya stabil. Hanya saja, dia bisa tiba-tiba terjun bebas atau drop saat hampir habis," jelas Abdul.Terakhir, untuk Lithium Ion, keunggulannya adalah benar-benar ringan, bentuknya kecil, kapasitas listriknya besar, dan tenaga lebih padat./DIO DANANJAYA Baterai motor listrik Kupprum URB-XNamun, kelemahannya adalah mudah terbakar jika terkena benturan atau tertusuk, dan apinya sulit dipadamkan."Jika ada benturan keras yang menyebabkan korslet di dalam, baterai bisa terbakar sendiri. Makanya, motor yang menggunakan lithium ion harus dilengkapi casing dari stainless atau material lainnya agar saat terjadi benturan, baterai tidak penyok atau tertusuk," ungkap Abdul.Dimensinya yang ringkas membuat baterai lithium sering digunakan di motor konversi atau balap.Namun, kelemahan lainnya adalah saat digunakan, voltasenya terus turun, tidak seperti LiFePO4 yang stabil."Nanti ketika sudah di bawah 50 persen, tenaga sudah mulai berkurang. Berbeda dengan LiFePO4 yang stabil," kata Abdul.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-04 02:42