Jalan di Kepanjen Malang Diuruk 1 Meter Lebih, Warga Mengeluh Tak Bisa Keluar-Masuk Rumah

2026-01-12 10:13:56
Jalan di Kepanjen Malang Diuruk 1 Meter Lebih, Warga Mengeluh Tak Bisa Keluar-Masuk Rumah
MALANG, - Warga di kawasan Jalan Sumedang, Desa Cepokomulyo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang mengeluh, lantaran perbaikan jalan di kawasan setempat yang justru membuat urukan hingga setinggi satu meter lebih.Alhasil, warga kesulitan saat hendak ingin keluar dari rumahnya menggunakan kendaraan, akibat akses yang curam dan sulit dilalui.Berdasarkan pantauan Kompas.com, ruas jalan di kawasan tersebut diruk menggunakan pasir dan batu kerikil hingga setinggi satu meter lebih. Akibatnya, rumah-rumah warga tampak seperti tenggelam di bawah badan jalan.Kondisi itu, salah satunya dikeluhkan oleh Abdul Hakim, warga setempat yang memiliki warung kopi di pinggir jalan.Baca juga: Bupati Malang Sebut Tol Malang-Kepanjen Dapat Lampu Hijau dari Pemerintah PusatIa mengaku sampai harus melalui jalan alternatif di belakang warungnya, ketika hendak pulang ke rumah. Sebab, kendaraannya tidak bisa mengakses jalan di depan warungnya."Tinggi jalan diuruk hingga lebih dari satu meter. Kalau begini, gimana yang akan datang ke warung kami akan kesulitan," ungkap dia saat ditemui, Selasa .Selain kesulitan akses jalan, Hakim menyebut proyek itu dapat memicu adanya genangan air ke rumah dam warung di sepanjang area tersebut. Sebab, air akan mengalir ke pinggir jalan saat hujan terjadi."Kalau banjir sudah pasti air akan mengalir dan menumpuk ke sini," sambung dia.Proses pengurukan itu, menurut Hakim, dilakukan sejak sekitar sepekan yang lalu.Sebelumnya, ia mengaku sempat mendapatkan sosialisasi dari Pemerintah bahwa jalan itu memang hendak diperbaiki.Baca juga: Rute Tol Malang-Kepanjen Digeser ke Gondanglegi supaya Terhubung dengan Jalur Wisata PantaiNamun, ia kaget saat mendapati proyek perbaikan membuat badan jalan menjadi lebih tinggi dari rumah mereka."Saya kira hanya diaspal lagi supaya lebih halus. Tidak tahunya malah ditinggikan begini, hingga lebih tinggi dari warung kami," ujar dia.Salah satu pelaku jasa tambal ban, Hadi Saiful juga merasakan hal yang sama. Ia mengaku kesulitan saat melakukan aktivitas tambal ban, lantaran mobil dan sepeda motor sulit parkir di depan kiosnya."Terpaksa, saat ini saya tidak menerima tambal ban mobil. Kalau pun ada, kami minta mereka parkir di depan kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang. Kemudian saya ke sana untuk membongkar bannya," ujar dia.Pendapatan Hadi dari jasa menambal ban itu pun menurun, sejak jalan ditinggikan pada sekitar sepekan lalu. "Iya menurunnya drastis. Lebih dari 70 persen," keluh dia.


(prf/ega)