Pemanasan Global, Resor Ski di Alpen Terbengkalai jadi "Resor Hantu"

2026-02-01 16:49:00
Pemanasan Global, Resor Ski di Alpen Terbengkalai jadi
 – Pemandangan tak lazim kini menghantui pegunungan Alpen, Prancis. Di tengah hamparan salju yang kian menipis, bangunan beton, tiang baja, dan kabel lift ski terlantar dan menciptakan pemandangan yang dikenal sebagai fenomena "stasiun hantu". Perubahan iklim yang mendorong garis salju ke titik lebih tinggi telah memaksa sekitar 186 resor ski di Prancis tutup permanen. Salah satu yang paling ikonik adalah Céüze 2000, resor berusia 85 tahun yang merupakan salah satu yang tertua di negara itu.Baca juga: Mengenal Sungai Aare, Sungai Terpanjang di Swiss dari Pegunungan Alpen Di lokasi ini, waktu seolah berhenti. Sebuah koran bertanggal 8 Maret 2018 tergeletak menguning di meja, bersandingan dengan botol air setengah minum yang ditinggalkan, seolah baru saja dibaca seseorang di waktu senggang enam tahun lalu.Sejak 1990-an, curah salju di Céüze mulai tidak menentu. Agar tetap bertahan secara finansial, resor setidaknya harus beroperasi selama tiga bulan dalam setahun. Namun, pada musim terakhirnya, resor ini hanya sanggup beroperasi selama 1,5 bulan akibat minimnya salju. Michel Ricou-Charles, Presiden Dewan Komunitas Buëch-Dévoluy yang mengelola lokasi tersebut, menjelaskan bahwa biaya operasional tahunan yang mencapai 450.000 Euro atau sekitar Rp 7,6 miliar menjadi beban berat. “Biaya untuk menjaga tetap buka lebih besar daripada membiarkannya tutup selama musim,” kata Ricou-Charles seperti dilansir dari The Guardian.Baca juga: Serunya Belajar Ski di Pegunungan Alpen Perancis, Bikin Ketagihan! Ia menambahkan bahwa teknologi salju buatan bukan lagi solusi jangka panjang. “Kami mempertimbangkan penggunaan salju buatan, tapi menyadari itu hanya akan menunda yang tak terelakkan,” ujarnya.Infrastruktur yang ditinggalkan kini menjadi ancaman ekologis serius. Asosiasi Mountain Wilderness memperkirakan terdapat lebih dari 3.000 struktur terlantar di pegunungan Prancis, mulai dari kabel lama, asbes, hingga oli mesin yang berisiko merembes ke tanah.Pembongkaran besar-besaran di Céüze baru dimulai pada 4 November 2025. Uniknya, tiang-tiang lift diangkat menggunakan helikopter untuk mencegah kerusakan tanah lebih lanjut akibat penggunaan alat berat. Meski prosesnya memakan biaya mahal mencapai 123.000 Euro atau sekitar Rp 2 miliar, hasilnya mulai terlihat. Tanda-tanda pemulihan ekologis muncul di bekas jalur ski yang kini tidak lagi dipangkas.Baca juga: Kisah Si Manusia Tropis, dari Jakarta ke Pegunungan Alpen PerancisBuah mawar liar (dog rose) mulai tumbuh dan menjadi sumber makanan bagi burung gagak alis merah (red-billed chough) yang langka. Pierre-Alexandre Métral, seorang ahli geografi dari Universitas Grenoble Alpes, menyebut fenomena ini sebagai laboratorium masa depan. “Ada banyak perdebatan tentang sifat dari pembongkaran ini – apakah ini sekadar menghilangkan benda-benda mekanis, atau kita sedang mencoba mengembalikan pegunungan ke semacam keadaan asalnya?” kata Métral.Penelitian menunjukkan pemanasan global sebesar 2 derajat Celcius akan menempatkan lebih dari separuh resor ski di dunia pada risiko kekurangan salju. Namun, bagi aktivis lingkungan, hilangnya mesin ski bukan berarti hilangnya daya tarik pegunungan. Céüze kini mulai beralih fungsi menjadi area rekreasi yang lebih tenang, seperti jalur pendakian dan jalan salju dengan raket (snow-shoeing).Baca juga: Berita Foto: Belajar Ski di Pegunungan Alpen Perancis “Orang-orang tetap datang. Kita tidak membutuhkan mesin-mesin besar untuk membuat pegunungan menarik,” pungkas perwakilan Mountain Wilderness, Nicolas Masson.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#5

Sementara Samsung Music Studio 5 hadir dengan ukuran lebih ringkas. Speaker ini ditujukan bagi pengguna yang menginginkan kualitas audio mumpuni tanpa mengganggu tampilan ruangan. Music Studio 5 mendukung koneksi WiFi dan Bluetooth, layanan streaming, serta kontrol suara.Kedua speaker WiFi Music Studio juga dirancang agar mudah diintegrasikan dengan soundbar dan TV Samsung, sebagai bagian dari ekosistem audio terpadu.Samsung juga meningkatkan teknologi Q-Symphony, yang memungkinkan TV, soundbar, dan speaker WiFi bekerja sebagai satu sistem audio. Pengguna dapat menghubungkan hingga lima perangkat audio sekaligus, dengan sistem yang menyesuaikan suara berdasarkan tata letak ruangan.Selain itu, Samsung juga memperkenalkan jajaran ekosistem audio terbaru mereka dari lini soundbar Q Series.Selama lebih dari satu dekade, Samsung telah membentuk evolusi audio rumah melalui teknologi akustik canggih, fitur cerdas, dan desain yang dipikirkan secara matang, ungkap Hun Lee, Executive Vice President Visual Display Business Samsung Electronics, dikutip KompasTekno dari halaman resmi Samsung. Kami melanjutkan warisan tersebut dengan perangkat audio generasi terbaru yang dirancang untuk menghadirkan performa suara yang kaya dan ekspresif di setiap ruang dan momen, lanjut dia. Salah satu produk utama dalam ekosistem audio terbaru ini adalah soundbar flagship HW-Q990H.Baca juga: Ketika HP Lipat Tiga Samsung Galaxy Z TriFold Dibuka-Tutup Barbar 200.000 Kali...Soundbar ini hadir dengan sistem 11.1.4-channel yang menggabungkan soundbar utama, speaker belakang, dan subwoofer aktif. Samsung juga menambahkan teknologi Sound Elevation agar terdengar lebih natural, serta fitur Auto Volume untuk menjaga konsistensi suara di berbagai jenis konten.Soundbar ini juga dibekali fitur berbasis AI untuk memperluas bidang suara. Lewat fitur ini, Samsung mengeklaim pengalaman audio yang dihadirkan setara dengan sistem home theater profesional, tetapi tetap ringkas untuk penggunaan di rumah.Selain itu, Samsung memperkenalkan All-in-One Soundbar HW-QS90H. Soundbar ini bisa dipasang di dinding atau diletakkan di atas meja. Sensor di dalamnya akan menyesuaikan arah suara secara otomatis sesuai posisi perangkat. Dengan sistem 7.1.2-channel dan 13 speaker, soundbar ini mampu menghasilkan bass yang dalam tanpa perlu subwoofer tambahan.

| 2026-02-01 15:22