JAMBI, - Nanang telah menjadi penjaga makam di Tempat Pemakaman Umum (TPA) Sungai Kambang, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi selama hampir lima belas tahun. Ia mulai menjalani pekerjaan itu ketika kondisi pemakaman masih dipenuhi semak belukar dan tidak terurus.Selama bertahun-tahun menjaga makam, Nanang menyimpan banyak pengalaman tidak biasa. Ia bercerita pernah mengalami tanah makam roboh saat menggali kuburan sehingga pekerjaannya harus diulang dari awal.Pengalaman yang lebih menegangkan terjadi saat ia dan rekan-rekannya menggali kuburan pada malam hari dan nyaris tersambar petir."Kami pas tegak kayak ada yang ngomong di tengah, untuk sudahlah, dalam lama sudah itu petir menyambar, tanah itu roboh tertutup lagi," ujarnya saat ditemui di pemakaman TPA Sungai Kambang, Kota Jambi, Selasa .Baca juga: Kisah Penjaga Makam di Bandung, Sering Dapat Firasat Sebelum Ada yang MeninggalNanang juga mengingat suasana mencekam ketika pandemi COVID-19 melanda. Banyak jenazah korban COVID-19 ditolak dishalatkan di masjid atau langgar karena masyarakat takut tertular."Tutup dan enggak ada yang masuk (menshalati) terpaksalah di tengah jalan, mayatnya di atas kursi," sebutnya.Bahkan proses pemakaman sering terhambat karena tidak ada yang berani turun ke liang lahat. Namun Nanang tetap melanjutkan pekerjaannya demi membantu keluarga jenazah."Alhamdulillah setelah dikuburin tidak terkena COVID-19 kami," katanya.Selain pengalaman terkait kondisi sosial dan kesehatan, Nanang mengungkap ada pula warga yang datang ke makam untuk mencari hal-hal mistis, termasuk ritual persugihan."Makanya kalau ada yang masuk katanya, kadang ada yang bertanya kuburan mati berdarah (untuk ritual) dimana, untuk ngobatin," ucapnya.Baca juga: Kisah Mang Jai di Pangkalpinang, Gali Makam 40 Tahun Tanpa DigajiMeski mengemban tugas berat, Nanang tidak menerima gaji bulanan dari pemerintah. Hanya ketua penjaga makam yang mendapat honor."Cuma ketua yang bergaji Rp 120.000, dulu katanya Ketua, wakil dan anggota nak dikasih gaji, tapi ngak ada," jelasnya.Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nanang mengandalkan penghasilan dari jasa menggali kuburan atau pemasangan nisan. Ia mengaku tetap membantu warga kurang mampu yang tidak sanggup membayar penuh."Kalau gali kuburan minimal Rp 2 juta, kadang ada yang terus terang (warga) tidak ada duit cuma ada Rp 1 juta, tetap kami bantu gali," ungkapnya.
(prf/ega)
15 Tahun Menjaga Makam, Nanang Cerita Pengalaman Mencekam di TPA Sungai Kambang Jambi
2026-01-12 09:10:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 09:22
| 2026-01-12 09:13
| 2026-01-12 08:08
| 2026-01-12 07:18
| 2026-01-12 07:07










































