Asia Pasifik Bersiap Masuk Era AI Real-Time pada 2026

2026-01-12 16:22:58
Asia Pasifik Bersiap Masuk Era AI Real-Time pada 2026
JAKARTA, – Perusahaan-perusahaan di kawasan Asia Pasifik bersiap memasuki fase baru pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) pada 2026, dari sekadar uji coba menuju penerapan operasional berbasis data real-time untuk menopang ketahanan dan pertumbuhan bisnis.Prediksi tersebut disampaikan Confluent dalam laporan Data Streaming 2025 yang menunjukkan, sebanyak 56 persen perusahaan di Asia Pasifik telah mengimplementasikan chatbot, copilot, dan asisten AI. Angka ini melampaui tingkat adopsi di Eropa dan Amerika Utara.Pada awal tahun lalu, hanya satu dari 20 perusahaan yang mengaku telah menerapkan AI. Kini, jumlahnya meningkat menjadi sekitar dua pertiga perusahaan.“Kita telah melewati tahap uji coba dan pembuktian dengan AI. Pemimpin di kawasan Asia Pasifik kini tahu apa yang ingin mereka bangun dan sudah berada dalam tahap membangunnya,” ujar Regional Director Confluent Indonesia Jemmy Ang, melalui keterangan pers, Senin .Baca juga: Dibayangi AI Bubble dan Utang AS, Bagaimana Prospek Investasi Tahun Depan?Menurut Jemmy, dorongan pemanfaatan AI tidak hanya didasari kebutuhan keunggulan kompetitif, tetapi juga untuk merespons tekanan ekonomi, kerentanan rantai pasok, serta risiko geopolitik. Tantangan tersebut diperkirakan akan semakin menguji ketahanan bisnis pada 2026.Confluent memproyeksikan empat pergeseran utama yang akan membentuk lanskap AI dan data di Asia Pasifik pada tahun depan. Pertama, fleksibilitas diperkirakan menjadi keharusan strategis bagi perusahaan. Dewan direksi di kawasan ini tidak lagi hanya mengejar efisiensi biaya, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar dan geopolitik yang cepat.Perusahaan dengan operasi lintas negara akan semakin mempertimbangkan pemindahan operasi ke dalam negeri, pemilihan vendor, serta pengalihan rantai pasok secara adaptif. Kondisi ini mendorong pengembangan sistem AI yang mampu memprediksi perubahan dan bertindak secara dinamis melalui aliran data real-time.Baca juga: SpaceX Siap IPO Raksasa, Ambisi Elon Musk: Bangun AI dan Pangkalan Manusia di BulanKedua, organisasi akan menghadapi tuntutan pembenaran investasi AI yang lebih ketat. Jika sebelumnya pengembalian investasi atau return on investment (ROI) diukur dari penghematan biaya, pada 2026 definisi tersebut diperkirakan bergeser ke arah pertumbuhan, pangsa pasar, serta peluang baru yang dihasilkan.ROI per aliran data akan menjadi metrik penting, seiring meningkatnya fokus dewan direksi pada inisiatif yang mampu memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan bisnis. Proyek AI yang tidak mampu menunjukkan manfaat dan justifikasi finansial sejak awal berisiko kehilangan pendanaan.Ketiga, pengembangan AI yang dapat diperluas akan sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi dalam mengelola dan “mengkonsumsi” data secara optimal. Laporan Confluent mencatat, hampir setengah atau 49 persen bisnis di Asia Pasifik masih menghadapi hambatan adopsi AI akibat infrastruktur pemrosesan data real-time yang belum memadai.


(prf/ega)