Kelakar Menkes, ASN Kemenkes yang "Buncit" Bakal Diajak Lari

2026-01-14 16:28:59
Kelakar Menkes, ASN Kemenkes yang
JAKARTA, - Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin berkelakar bahwa aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Kesehatan yang terlihat "buncit" akan diajak lari bersama.Mulanya, Budi membahas temuan banyaknya usia dewasa yang masih produktif, tetapi malas untuk bergerak dan akhirnya menimbulkan obesitas."Ternyata banyak yang dewasa-dewasa tuh, usia-usia ini nih, usia produktif, malas gerak dan terjadi obesitas. Itu dulu itunya tuh. Kami bertiga (Wamenkes Dante dan Wamenkes Benyamin) enggak ada yang kelihatan obesitas ya," ucap Budi saat ditemui di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu .Kemudian, Budi menanggapi pertanyaan wartawan terkait bagaimana bila ada ASN Kemenkes yang perutnya masih terlihat "buncit".Baca juga: HKN ke-61, Menkes Klaim Program Quick Win Prabowo Sudah Tunjukan Hasil Signifikan"Nah, iya itu tuh. Makanya nanti sama Wamennya diajak lari, gitu kan. Wamennya kurus-kurus soalnya. Wamennya sekarang sudah cocok," kata Budi seraya tertawa.Budi lalu mengingatkan awak media untuk menjaga kesehatan karena kegemukan atau obesitas juga dapat menyebabkan penyakit diabetes dan hipertensi."Cek kesehatan gratis nomor satu. Kalau ada yang merah-merahnya atau kuning, makannya mesti dijaga, tidurnya mesti yang cukup. Enggak boleh malas gerak. Karena banyak obesitas, bisa darah tinggi, bisa gula darah," ucapnya.Pada momen Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61, Budi mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan.Baca juga: Menkes Sebut Indonesia Masih Kekurangan Dokter Gigi dan Dokter Spesialis"Itu adalah prioritas utama, memang kita harus mengobati orang yang sakit, tapi akan jauh lebih baik lagi kalau orang jangan sakit," jelasnya."Kalau sakit kan enggak produktif, enggak bisa kerja, biaya mahal, bayar obat, bayar rumah sakit," sambungnya.Menurut Budi, sangat gampang untuk hidup sehat.Dimulai dari makan yang diatur dan tidur yang cukup."Makannya diatur, tidurnya diatur, pikirannya positif terus, dan juga enggak boleh berhenti bergerak atau olahraga," kata dia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-14 15:24